Motivasi ISLAM dalam Pandangan Al-Ghazali : Pengetahuan, Keadaan Spiritual dan Aktualisasi Diri

 

Kita sudah terbiasa mengucapkan dan mendengar istilah syukur, sabar, tawakkal, dan taubat dalam kehidupan sehari-hari. Semua istilah itu menunjukkan macam-macam tindakan yang mulia. Semua tindakan itu merupakan perintah Allah kepada orang mukmin. Dalam kitab Ihya`, Al-Ghazali menghimpun berbagai tindakan itu dalam penyelamat (munjiyat). Mengapa ia memaknai taubat sebagai penyelamat? Kita tahu bahwa kesalahan dan dosa dapat menghancurkan manusia dan kehidupan manusia. Tapi jika ia melakukan taubat, maka Allah akan mengampuni sehingga ia menjadi baik kembali seperti sedia kala. Kita bisa memahami bahwa taubat merupakan salah satu tindakan yang dapat menyelamatkan manusia dari kehancuran. Oleh sebab itu, Al-Ghazali menamakan taubat sebagai penyelamat. Begitu pula dengan syukur, sabar dan sebagainya.

Jika membaca dengan seksama tulisan Al-Ghazali tentang sabar, syukur, taubat dan sebagainya, maka kita bisa tahu bahwa setiap penyelemat itu meliputi tiga aspek penting : (1) pengetahuan, (2) kesadaan spiritual dan (3) aktualisasi diri. Ketiga aspek itu berhubungan secara kausalitas. Pengetahuan menentukan keadaan spiritual. Sedangkan keadaan spiritual menentukan aktualisasi diri. Apakah setiap pengetahuan itu mendatangkan keadaan spiritual? Jawabnya, tidak, kita harus tahu bahwa tidak semua pengetahuan memberikan manfaat kepada pemiliknya. Misal, pengetahuan manusia bahwa dirinya adalah orang miskin. Pengetahuan itu tidak mendatangkan keadaan spiritual. Justru sebaliknya, pengetahuan itu akan mencipta kesedihan dalam hati. Kesedihan terjadi dalam hati sebab pengaruh kehidupan dunia seperti ketiadaan harta benda dan sebagainya.

Keadaan spiritual itu datang dari sisi Allah tanpa usaha dan rekayasa manusia. Keadaan itu datang karena kehendak-Nya untuk membantu menolong manusia. Kita bisa mengambil misal keadaan spiritual dari kisah perang Hunain. Keadaan spiritual itu adalah ketenangan (sakinah) yang diturunkan ke dalam hati manusia. Ketenangan itu bukanlah ketenangan yang dibuat-buat dalam keadaan peperangan tapi ketenangan sejati. Ketenangan sejati itu merupakan bentuk pertama pertolongan-Nya kepada manusia. Sementara itu, kesedihan dalam hati manusia tidak datang dari sisi-Nya melainkan datang dari sisi duniawi, seperti ketiadaan harta dan sebagainya. Di sini, kita bisa memahami bahwa semua situasi hati yang datang dari sisi Allah dinamakan keadaan spiritual, seperti ketenangan dan sebagainya. Sementara itu, situasai hati yang dating dari fenomena dunia dinamakan keadaan material, seperti kegelisahan dan sebagainya.

Jika kita melihat kembali ketiga perkara : (1) pengetahuan, (2) keadaan spititual dan (3)aktualisasi diri, maka kita tahu bahwa keadaan spiritual lebih besar kekuatannya daripada kekuatan pengetahuan setiap kesuksesan. Demikian pula, kita bisa mengetahui bahwa keadaan material lebih besar kekuatannya daripada kekuatan pengetahuan setiap kegagalan. Selain itu, kita bisa memahami dari penjelasan Al-Ghazali bahwa sebuah tindakan merupakan aktualisasi diri. Setiap aktualisasi mesti berdasarkan pengetahuan dan keadaan spiritual atau keadaan material. Jelasnya, sebuah motivasi terdiri dari tiga unsur : (1) pengetahuan, (2) keadaan spiritual dan (3) aktualisasi diri. Ketiga unsur itu memiliki hubungan hati, pikiran dan dunia. Keadaan spiritual berhubungan dengan hati. Pengetahuan berhubungan dengan pikiran. Sedangkan aktualisasi diri berhubungan dengan dunia. Penjelasan lebih jauh tentang materi ini dapat dipahami dalam pembahasan mendatang.

Oleh : Habaib Zainal Abidin Aydeed

http://www.facebook.com/pages/Islamic-Motivation-Development/203132063043595

 

No comments

Be the first one to leave a comment.

Post a Comment