Keajaiban Hati
Kita biasa mengucapkan dan mendengar kata “kalbu.” Kata itu sebenarnya berasal dari bahasa Arab “al-qalb.” Sementara itu, kata “al-qalb”sering diterjemahkan dengan kata “hati.” Di sini kita tidak perlu debat semantis tentang ketiga kata itu. Cukuplah kita pahami bahwa ketiga kata itu menunjuk pada satu obyek yang sama. Kita bisa mengetahui obyek itu dari ungkapan, misal, “Hatiku sakit mendengar ucapannya.” Kata “hati” dalam ungkapan itu bukanlah menunjukkan salah satu organ tubuhnya melainkan dirinya. Demikian halnya ungkapan, misal, cinta ini selalu ada di dalam kalbu. Kata “kalbu”dalam ungkapan itu juga menunjukkan diri manusia. Jelasnya, baik kata “hati” dan “kalbu”sama-sama menunjukkan diri manusia. Tentunya diri manusia bukanlah tubuh manusia melainkan hakikat manusia. Hal ini sudah dijelaskan oleh sufi ternama, Al-Ghazali bahwa hati adalah hakikat manusia. Dalam tulisan ini, kita akan memahami lebih dekat hati sebagai hakikat manusia.
Dalam kitab Ihya`, Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati memiliki dua wajah. Wajah pertama menghadap Alam Ghaib, sebagai jalan masuk ilham dan wahyu. Sedangkan wajah hati kedua menghadap Alam Nyata (dunia). Lihat foto (1)
Lingkaran hitam yang berada di paling tengah menjelaskan Dunia (Alam Nyata). Inilah tempat tinggal kita sekarang ini. Di tempat ini pula, kita berupaya mewujudkan harapan dengan berbagai tindakan terencana. Dunia adalah tempat semua tindakan manusia baik tindakan buruk maupun tindakan baik. Kita harus memahami bahwa keberadaan dunia itu adalah lading bagi kita semua. Di dunia inilah kita menanam kebaikan atau keburukan. Jelasnya, kehidupan kita sekarang ini masih berada di dunia ini.
Lingkaran warna merah di tengah menjelaskan wajah hati yang menghadap dunia. Karena fungsinya menghadap dunia dan memahami segala hal di dalamnya, kita menamakan wajah itu dengan kata “pikiran.” Pikiran merupakan sebuah kemampuan dalam diri manusia untuk memahami segala hal dunia. Kita juga tahu bahwa pikiran itu tidak bisa memahami fenomena dunia kecuali ia berada dalam keadaan sadar. Misalnya, pada saat tidur kita sama sekali tidak mengetahui apapun di dunia. Bahkan bisa dikatakan saat tidur, kita terputus dengan dunia ini. Sebaliknya pada saat sadar, kita bisa mengetahui semua hal di dunia. Bahkan lebih dari itu, kita bisa mengetahui diri kita masing-masing. Dengan kata lain, pikiran adalah kemampuan di dalam hati untuk memahami segala hal di dunia.
Lingkatan kuning yang berada paling luar adalah wajah hati yang menghadap Alam Ghaib. Pikiran sebagai wajah hati yang menghadap dunia memiliki kemampuan memahami segala hal di dunia, maka wajah hati yang menghadap Alam Ghaib memiliki kemampuan untuk menerima segala hal yang dating dari sisi Allah, seperti ilham dan wahyu. Selain itu, wajah hati itu memiliki kemampuan merasakan hasil pikiran. Misalnya saja, pada saat pikiran itu mengatakan,”Saya adalah miskin dan sial,” maka wajah hati itu bisa merasakan kesedihan, kegelisahan dan kegundahan. Sebaliknya, pada saat pikiran mengatakan,”Saya adalah sebaik-baik ciptaan Allah,”maka ia akan merasakan kebahagian, ketenangan dan ketentraman. Di sinilah maksud perkataan Al-Ghazali bahwa hati merupakan sumber dan pembuka semua kebaikan. Agar lebih mudah kita menamakan wajah hati yang menghadap Alam Ghaib ini dengan istilah “hati.” Jadi, setiap hati memiliki kemampuan memahami segala hal di dunia dengan pikiran. Bahkan hati bisa merasakan hakikat dirinya, seperti kesedihan dan kebahagian. Persoalan kesedihan manusia hidup di dunia lihat foto (2)
Jika seorang mukmin mengikuti petunjuk Nabi Muhammad saw maka pastilah ia merasakan kebahagian meskipun pada saat itu ia tidak memiliki harta benda, pendidikan tinggi dan relasi social. Kebahagian itu tercipta sebab ia terbebas dari belenggu dunia. Kebahagian ini dapat dilihat gambar foto (3):
Oleh : Habaib Zainal Abidin Aydeed
http://www.facebook.com/pages/Islamic-Motivation-Development/203132063043595




No comments
Be the first one to leave a comment.