<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Paguyuban Seni Rukun Rencang - Bersama Kita Membumikan Shalawat</title>
	<atom:link href="http://rukunrencang.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rukunrencang.com</link>
	<description>Bersama Kita Membumikan Shalawat</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Jun 2011 02:06:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.1</generator>
		<item>
		<title>Kesalahan Manusia Dalam Mencari Rizki</title>
		<link>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/kesalahan-manusia-dalam-mencari-rizki.html</link>
		<comments>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/kesalahan-manusia-dalam-mencari-rizki.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 01:09:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Motivation Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rukunrencang.com/?p=6133</guid>
		<description><![CDATA[Para pembaca Islamic Motivation Development, Hampir semua orang menginginkan keluasan rizki. Tapi mereka tidak tahu prinsip spiritual : “Suasana hati sangat menentukan hasil usaha.” Jika anda melakukan sebuah usaha dengan hati penuh keluh kesah, maka anda tidak pernah merasakan kebaikan sama sekali. Sebab itu, tips pertama memperoleh keluasaan rizki adalah membuang perasaan sulit dan sendiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Para pembaca Islamic Motivation Development,</p>
<p>Hampir semua orang menginginkan keluasan rizki. Tapi mereka tidak tahu prinsip spiritual : “Suasana hati sangat menentukan hasil usaha.” Jika anda melakukan sebuah usaha dengan hati penuh keluh kesah, maka anda tidak pernah merasakan kebaikan sama sekali. Sebab itu, tips pertama memperoleh keluasaan rizki adalah membuang perasaan sulit dan sendiri dari hati saat mencari rizki. Anda harus tahu bahwa perasaan sulit dan sendirian itu merupakan “sugesti setan” ke dalam hati anda. Jika anda merasakan kesulitan dalam hati saat mencari rizki, maka anda tanpa sadar mengatakan bahwa Tuhan tidak memberikan pertolongan-Nya ke dalam hati anda. Sebab itulah anda merasakah kesulitan dalam hati anda. Bahkan perasaan sendirian saat mencari rizki itu menegaskan sekali lagi bahwa Tuhan benar-benar tidak memberikan pertolongan-Nya ke dalam hati anda.</p>
<p>Para pembaca Islamic Motivation Development,</p>
<p>Mengapa manusia bisa merasakah kesulitan dan kesendirian saat mencari rizki? Hal itu terjadi karena ia selalu melihat berbagai hal di dunia dan melupakan kebesaran Tuhan kepadanya. Suatu saat, saya bertanya kepada seorang pedagang kecil : “Pak, bagaimana perasaan anda saat mencari rizki?” Dia menjawab,”Mencari rizki itu susah dan sulit apalagi dalam keadaan seperti ini.” Setelah mendengar jawaban itu, saya bertanya lagi, “Kok bisa anda merasakah susah dan sulit?” Dia pun menjawab,”Coba lihat sendiri dagangan saya seperti ini, modal sedikit, saingan banyak, kebutuhan banyak dan sebagainya. Jelasnya, kesadaran pedagang kecil itu penuh dengan pengalaman duniawi. Pengalaman duniawi ini dipergunakan oleh setan sebagai alat untuk menanamkan sugetinya : mencari rizki itu sulit dan sendirian. Saat hati menerima sugesti setan itu, maka pikirannya semakin jauh dengan kebenaran Tuhan dan tidak lagi mengakui pertolongan-Nya kepadanya. Pedagang kecil itu tidak lagi bersyukur kepada Tuhan sebab ia telah diberi waktu sehingga ia dapat melakukan jualan, ia diberi perlindungan dari hal-hal buruk selama jualan dan bahkan ia melupakan doa keluarganya dan orang lain saat mencari rizki.</p>
<p>Para pembaca Islamic Motivation Development,</p>
<p>Jika anda merasakan kesulitan dan kesendirian saat mencari rizki, maka anda benar-benar jauh dari pertolongan Tuhan. Sebab itulah rizki anda menjadi sempit dan sedikit. Jika anda sudah paham penjelasan ini, maka sebaiknya buanglah jauh-jauh perasaan sulit dan sendirian saat mencari rizki. Sebaliknya, anda harus benar-benar percaya sepenuh hati bahwa Tuhan membantu anda saat mencari rizki. Dengan bersyukur atas pertolongan-Nya itu, maka anda akan diberi kemudahan luar biasa dan mendapatkan keluasan rizki dalam hidup anda.</p>
<p>Para pembaca Islamic Motivation Development,</p>
<p>Merasakan kesulitan dan kesendirian saat mencari rizki adalah dosa karena perasaan itu meniadakan pertolongan Tuhan kepada anda. Jika anda ingin lepas dari perasaan sulit dan sendirian, maka pertama-tama anda harus taubat, mengakui kesalahan anda kepada-Nya dan kedua anda selalu dzikir (ingat) kepada-Nya selama mencari rizki. Dengan begitu, anda akan merasakan ketenangan luar biasa dan kebersamaan dengan Tuhan saat mencari rizki. Ketika hati anda dipenuhi dengan ketenangan itu, maka Diapun akan ketenangan dari sisi-Nya ke dalam hati anda dan memberikan pertolongan di dunia dengan berbagai kemudahan.</p>
<p>Oleh : <strong>Habaib Zainal Abidin Aydeed</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/kesalahan-manusia-dalam-mencari-rizki.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Luasnya Hati Luasnya Rizki</title>
		<link>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/luasnya-hati-luasnya-rizki.html</link>
		<comments>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/luasnya-hati-luasnya-rizki.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 23:44:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Motivation Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rukunrencang.com/?p=6132</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca Islamic Motivation Development, Tuhan selalu memerintahkan manusia khususnya orang beriman untuk berbagi rizki dari-Nya : Hai orang-orang beriman, nafkanlah sebagian dari hasil usaha yang baik-baik. (Q:S;2:267). Meski begitu, masih ada sebagian tidak semua orang bisa berbagai rizki dengan kebahagian hati kepada orang lain. Mengapa hal itu bisa terjadi dalam kehidupan? Kita bisa menjawab, mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembaca Islamic Motivation Development,</p>
<p>Tuhan selalu memerintahkan manusia khususnya orang beriman untuk berbagi rizki dari-Nya : Hai orang-orang beriman, nafkanlah sebagian dari hasil usaha yang baik-baik. (Q:S;2:267). Meski begitu, masih ada sebagian tidak semua orang bisa berbagai rizki dengan kebahagian hati kepada orang lain. Mengapa hal itu bisa terjadi dalam kehidupan? Kita bisa menjawab, mereka tidak mau berbagi rizki dari Allah karena kikir, pelit dan bakhil. Tulisan ini berusaha menjelaskan bagaimana orang itu bisa kikir, pelit dan bakhil.</p>
<p>Pembaca Islamic Motivation Development,</p>
<p>Ketahuilah bahwa setan itu berada dalam kesadaran manusia. Ia selalu mengajarkan manusia tentang logikanya sehingga manusia jauh dari kebenaran. Ketika orang mau mengeluarkan sebagain rzikinya, maka setan datang kepadanya layaknya seorang berilmu. Kedatangan itu bukan di dunia ini melainkan di dalam kesadaran. Di dalam kesadaran itu, terjadi dialog antara pikiran dan setan itu. Setan benar-benar tahu bahwa manusia itu begitu kuat memegang prinsip rasional sebagai ukuran kebenaran. Sebenarnya, rasional itu tidak keliru tapi jika manusia tidak mengetahuinya langkah-langkah setan, maka ia justru akan terjebak pada kekesalahan fatal.</p>
<p>Pembaca Islamic Motivation Development,</p>
<p>Ketika manusia akan mengeluarkan sebagian rizki, maka setan datang dan bertanya : ”Tindakan itu adalah baik, tapi sebelum kamu melakukan cobalah diingat bagaimana cara kamu mendapatkannya? Pikiran diajak oleh setan untuk mengingat kembali proses di dunia saat ia mendapatkan rizki dengan kerjanya. Hampir semua orang miskin memberikan jawaban : “Mencari rizki adalah sulit dan payah.” Mendengar jawaban itu, setan menjelaskan langkah pertama: “Bukankah masuk akal jika rizki itu kamu gunakan hal-hal yang menyenangkan saja karena kamu telah susah payah mendapatkannya?” Jika manusia mengikuti langkah pertama ini, maka ia akan menggunakan semua hasil kerja (uang) untuk bersenang-senang saja. Hal itu tampak dalam kehidupan kita bagaimana orang miskin menggunakan uang mereka.</p>
<p>Pembaca Islamic Motivation Development,</p>
<p>Jika manusia tetap bersikukuh mencari rizki adalah mudah karena pertolongan Allah, maka setan tahu bahwa Hampir niat semua orang mencari rizki untuk keluarganya. Kemudian ia bertanya : “Sudah cukupkah kebutuhan rizki bagi keluargamu?” hampir semua orang miskin menjawab bahwa banyak sekali kebutuhan keluarga bahkan rizki ini belum mencukupinya. Lalu setan menggunakan langkah kedua :”Bukankah masuk akal jika kamu gunakan terlebih dahulu rizki itu untuk keluarga dan jika ada sisanya baru diberikan kepada orang lain?” Jika manusia menerima langkah kedua itu, maka ia akan menggunakan semua rizkinya untuk mencukupi keluarganya. Padahal kebutuhan keluarganya itu tidak akan pernah selesai sebelum mati.</p>
<p>Pembaca Islamic Motivation Development,</p>
<p>Jika manusia tetap saja besikukuh bahwa Allah menjamin rizki keluarganya, maka sebenarnya satan sudah mulai pesimis dapat mengajarkan logikanya. Tapi masih ada satu kelemahan manusia. Kelemahan itu adalah ia merasakan kebahagian jika orang yang ditolong itu dapat selamat dan hidup lebih baik. Satan mengetahui kelemahan itu, lalu ia bertanya :”Sekarang coba kamu lihat siapakah orang yang akan menerima pemberianmu?” Dalam hal ini, setan mengajak pikiran manusia untuk menyelidiki kehidupan orang. Jika pikiran menemukan fakta bahwa orang itu tidak pernah menyapanya, berhubungan dengannya dan bahkan sering berbuat tidak baik dengannya, maka setan menggunakan langkah ketiga :”Bukankah masuk akal jika kamu menolong orang yang dekat denganmu dan selalu berbuat kebaikan kepadamu?” Ketika pikiran itu menerima logika setan itu, maka ia akan menunda niat baiknya untuk memberikan sebagian rizkinya dan mencari orang yang dianggap pantas. Padahal selama mencari orang yang pantas itu, boleh jadi ia melupakan niat baik itu dan tidak menemukan orang yang dianggapnya pantas sehingga tidak jadi melakukan kebaikan di dunia.</p>
<p>Pembaca Islamic Motivation Development,</p>
<p>Setan jelas berusaha keras untuk menggagalkan setiap usaha manusia. Sebab itu, Tuhan berkata : “Sesungguhnya setan adalah musuh bagimu maka anggaplah ia musuh.(Q:S;35:6). Dan jangalah kamu mengikuti langkah-langkah setan.(Q:S;2:208). Kita tahu bahwa pikiran manusia seringkali mengikuti langka-langkah setan. Di sisi lain, setan juga menawarkan konsep “rasional” kepada pikiran dan tidak sedikit pikiran manusia terpesona dan menjadikannya sebagai pembimbing dalam melakukan tindakan. Setelah memahami pembahasan ringkas ini, saya ingin memberikan tips, pada  saat kita mau mengeluarkan sebagian hasil kerja (rizki) kepada orang lain, maka</p>
<ol>
<li>Janganlah dilihat bagaimana cara mencari rizki karena Tuhan selalu memberikan pertolongan-Nya.</li>
<li>Janganlah dilihat berapa banyak kebutuhan keluarga karena Dia menanggung rizki keluarga kita.</li>
<li>Janganlah dilihat siapa yang menerima karena pemberian tidak bisa merubah nasib orang lain.</li>
</ol>
<p>Pembaca Islamic Motivation Development,</p>
<p>Jika kita tidak mengkuti langkah-langkah setan dalam kesadaran, maka pikiran akan mengetahui bahwa</p>
<ol>
<li>Buanglah perasaan sulit dan sendirian di saat mencari rizki karena Tuhan memberikan pertolongan-Nya.</li>
<li>Pasrahkan kebutuhan keluarga kepada Allah karena Dia telah menanggung kebutuhan dan rizki mereka.</li>
<li>Jadikanlah orang lain sebagai teman di saat mencari rizki karena tidak ada musuh nyata baginya kecuali setan.</li>
</ol>
<p>Oleh : <strong>Habaib Zainal Abidin Aydeed</strong></p>
<p><iframe scrolling="no" frameborder="0" src="http://www.facebook.com/connect/connect.php?id=203132063043595&amp;stream=0&amp;connections=12&amp;logobar=&amp;css=0?1284279379" style="border: none; height: 355px;">&nbsp;</iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/luasnya-hati-luasnya-rizki.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Salahkan ALLAH tapi Salahkan Dirimu Sendiri</title>
		<link>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/jangan-salahkan-allah-tapi-salahkan-dirimu-sendiri.html</link>
		<comments>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/jangan-salahkan-allah-tapi-salahkan-dirimu-sendiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 23:40:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Motivation Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rukunrencang.com/?p=6131</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tulisan ini, tindakan (amal) didefinisikan dengan aktualisasi diri di dunia. Setiap aktualisasi diri bisa bisa diungkapkan dengan sebuah kata meskipun aktualisasi diri terdiri dari beberapa tindakan. Misalnya, tindakan “makan” terdiri dari tindakan mengambil makanan, memegangnya, mengunyahnya, menelannya dan sebagainya. Kita harus membedakan antara tindakan “makan” di dalam kesadaran dengan tindakan aktualnya di dunia. Di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam tulisan ini, tindakan (amal) didefinisikan dengan aktualisasi diri di dunia. Setiap aktualisasi diri bisa bisa diungkapkan dengan sebuah kata meskipun aktualisasi diri terdiri dari beberapa tindakan. Misalnya, tindakan “makan” terdiri dari tindakan mengambil makanan, memegangnya, mengunyahnya, menelannya dan sebagainya. Kita harus membedakan antara tindakan “makan” di dalam kesadaran dengan tindakan aktualnya di dunia. Di sini, saya ingin mengatakan kepada anda bahwa tindakan di dalam kesadaran itu ditentukan oleh pengetahuan. Sedangkan beberapa tindakan aktualnya seperti mengambil makanan dsb ditentukan oleh beberapa faktor di luar pengetahuan. Di antara beberapa faktor itu adalah Allah. Dengan penjelasan ini, saya ingin menjelaskan pandangan Al-Ghazali bahwa pengetahuan menentukan keadaan spiritual; dan keadaan spiritual menentukan tindakan. Pandangan itu bisa dijabarkan sebagai berikut :</p>
<p>(1)   Pengetahuan  duniawi Þ bentuk tindakan dalam dalam kesadaran.<br />
(2)   Pengetahuan tentang diri Û keadaan spiritual dalam hati.<br />
(3)   Keadaan spiritual Þ tindakan-tindakan aktual di dunia.<br />
(4)   Tindakan-tindakan aktual di dunia Þ kesuksesan di dunia.</p>
<p>Hubungan (1),(2),(3) dan (4) dapat diilustrasikan sebagai berikut : Anda berdagang pakaian di pasar. Dalam itu, dagang adalah tindakan yang ditentukan berdasarkan pengetahuan tentang dunia. Sedangkan pengetahuan tentang diri,”Saya adalah sebaik-baik ciptaan Allah,” menciptakan ketenangan dalam kesadaran Anda. Di sisi lain, hati Anda akan menghadap Allah dengan kesadaran penuh ketenangan sehingga Dia pun memberikan ketenangan-Nya (keadaan spiritual). Lalu Anda pun mengaktualisasikan diri sebagai pedagang pakaian di pasar dengan ketenangan-Nya dalam hati, maka ketenangan itu memberikan pengaruh luar biasa pada tindakan-tindakan aktual dagang di pasar. Pada akhirnya, dagang Anda memperoleh kesuksesan. Dengan kata lain, setiap kesuksesan itu pasti melibatkan peran Allah dengan menurunkan ketenangan-Nya ke dalam hati manusia dan menurunkan bala tentara yang tidak kelihatan di dunia.</p>
<p>Beberapa tindakan aktual di dunia terkadang juga dipengaruhi oleh keadaan material dalam hati.</p>
<p>(1)   Fenomena duniawai  Þ pengetahuan tentang diri.<br />
(2)   Pengetahuan tentang diri Þ pengetahuan di dalam kesadaran<br />
(3)   Pengetahuan tentang diri Þ bentuk pengetahuan di dalam kesadaran<br />
(4)   Pengetahuan tentang diri Þ keadaan material<br />
(5)   Keadaan material Þ tindakan-tindakan aktual di dunia</p>
<p>Hubungan itu (1),(2),(3),(4) dan (5) bisa diilustrasikan sebagai berikut : fenomena duniawi (ketiadaan harta benda dan sebaginya) masuk ke dalam kesadaran. Fenomena duniawi itu mempengaruhi kesadaran sehingga pikiran Anda menyatakan diri, “Saya adalah miskin.” Dalam hal ini, pernyataan, “Saya adalah orang miskin,” adalah pengetahuan tentang diri Anda. Pengetahuan itupun menentukan bentuk pengetahuan dan bentuk tindakan di dalam kesadaran. Tidak hanya itu, pengetahuan itu juga mendatangkan keadaan material (kegelisahan) di dalam kesadaran. Sementara itu, secara tidak sadar hati Anda menghadap Allah dengan penuh kemarahan karena kegelisahan itu dan melakukan semua tindakan aktual di dunia ini keadaan meterial.  Sebab itu, Anda merasakan kesialan di dunia dan kesempitan dalam kesadaran. Ketika kesadaran penuh kegelisahan dsb, maka hati manusia sedang menolak datangnya pertolongan dari Allah. Sebab itu, Dia tidak pernah terlibat dalam kegagalan manusia di dunia.</p>
<p>Oleh : <strong>Habaib Zainal Abidin Aydeed</strong></p>
<p><iframe scrolling="no" frameborder="0" src="http://www.facebook.com/connect/connect.php?id=203132063043595&amp;stream=0&amp;connections=12&amp;logobar=&amp;css=0?1284279379" style="border: none; height: 355px;">&nbsp;</iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/jangan-salahkan-allah-tapi-salahkan-dirimu-sendiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Motivasi ISLAM dalam Pandangan Al-Ghazali : Pengetahuan, Keadaan Spiritual dan Aktualisasi Diri</title>
		<link>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/motivasi-islam-dalam-pandangan-al-ghazali-pengetahuan-keadaan-spiritual-dan-aktualisasi-diri.html</link>
		<comments>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/motivasi-islam-dalam-pandangan-al-ghazali-pengetahuan-keadaan-spiritual-dan-aktualisasi-diri.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 23:37:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Motivation Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rukunrencang.com/?p=6130</guid>
		<description><![CDATA[Kita sudah terbiasa mengucapkan dan mendengar istilah syukur, sabar, tawakkal, dan taubat dalam kehidupan sehari-hari. Semua istilah itu menunjukkan macam-macam tindakan yang mulia. Semua tindakan itu merupakan perintah Allah kepada orang mukmin. Dalam kitab Ihya`, Al-Ghazali menghimpun berbagai tindakan itu dalam penyelamat (munjiyat). Mengapa ia memaknai taubat sebagai penyelamat? Kita tahu bahwa kesalahan dan dosa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita sudah terbiasa mengucapkan dan mendengar istilah syukur, sabar, tawakkal, dan taubat dalam kehidupan sehari-hari. Semua istilah itu menunjukkan macam-macam tindakan yang mulia. Semua tindakan itu merupakan perintah Allah kepada orang mukmin. Dalam kitab Ihya`, Al-Ghazali menghimpun berbagai tindakan itu dalam penyelamat (munjiyat). Mengapa ia memaknai taubat sebagai penyelamat? Kita tahu bahwa kesalahan dan dosa dapat menghancurkan manusia dan kehidupan manusia. Tapi jika ia melakukan taubat, maka Allah akan mengampuni sehingga ia menjadi baik kembali seperti sedia kala. Kita bisa memahami bahwa taubat merupakan salah satu tindakan yang dapat menyelamatkan manusia dari kehancuran. Oleh sebab itu, Al-Ghazali menamakan taubat sebagai penyelamat. Begitu pula dengan syukur, sabar dan sebagainya.</p>
<p>Jika membaca dengan seksama tulisan Al-Ghazali tentang sabar, syukur, taubat dan sebagainya, maka kita bisa tahu bahwa setiap penyelemat itu meliputi tiga aspek penting : (1) pengetahuan, (2) kesadaan spiritual dan (3) aktualisasi diri. Ketiga aspek itu berhubungan secara kausalitas. Pengetahuan menentukan keadaan spiritual. Sedangkan keadaan spiritual menentukan aktualisasi diri. Apakah setiap pengetahuan itu mendatangkan keadaan spiritual? Jawabnya, tidak, kita harus tahu bahwa tidak semua pengetahuan memberikan manfaat kepada pemiliknya. Misal, pengetahuan manusia bahwa dirinya adalah orang miskin. Pengetahuan itu tidak mendatangkan keadaan spiritual. Justru sebaliknya, pengetahuan itu akan mencipta kesedihan dalam hati. Kesedihan terjadi dalam hati sebab pengaruh kehidupan dunia seperti ketiadaan harta benda dan sebagainya.</p>
<p>Keadaan spiritual itu datang dari sisi Allah tanpa usaha dan rekayasa manusia. Keadaan itu datang karena kehendak-Nya untuk membantu menolong manusia. Kita bisa mengambil misal keadaan spiritual dari kisah perang  Hunain. Keadaan spiritual itu adalah ketenangan (sakinah) yang diturunkan ke dalam hati manusia. Ketenangan itu bukanlah ketenangan yang dibuat-buat dalam keadaan peperangan tapi ketenangan sejati. Ketenangan sejati itu merupakan bentuk pertama pertolongan-Nya kepada manusia. Sementara itu, kesedihan dalam hati manusia tidak datang dari sisi-Nya melainkan datang dari sisi duniawi, seperti ketiadaan harta dan sebagainya. Di sini, kita bisa memahami bahwa semua situasi hati yang datang dari sisi Allah dinamakan keadaan spiritual, seperti ketenangan dan sebagainya. Sementara itu, situasai hati yang dating dari fenomena dunia dinamakan keadaan material, seperti kegelisahan dan sebagainya.</p>
<p>Jika kita melihat kembali ketiga perkara : (1) pengetahuan, (2) keadaan spititual dan (3)aktualisasi diri, maka kita tahu bahwa keadaan spiritual lebih besar kekuatannya daripada kekuatan pengetahuan setiap kesuksesan. Demikian pula, kita bisa mengetahui bahwa keadaan material lebih besar kekuatannya daripada kekuatan pengetahuan setiap kegagalan. Selain itu, kita bisa memahami dari penjelasan Al-Ghazali bahwa sebuah tindakan merupakan aktualisasi diri. Setiap aktualisasi mesti berdasarkan pengetahuan dan keadaan spiritual atau keadaan material. Jelasnya, sebuah motivasi terdiri dari tiga unsur : (1) pengetahuan, (2) keadaan spiritual dan (3) aktualisasi diri. Ketiga unsur itu memiliki hubungan hati, pikiran dan dunia. Keadaan spiritual berhubungan dengan hati. Pengetahuan berhubungan dengan pikiran. Sedangkan aktualisasi diri berhubungan dengan dunia. Penjelasan lebih jauh tentang materi ini dapat dipahami dalam pembahasan mendatang.</p>
<p>Oleh : Habaib Zainal Abidin Aydeed</p>
<p>http://www.facebook.com/pages/Islamic-Motivation-Development/203132063043595</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/motivasi-islam-dalam-pandangan-al-ghazali-pengetahuan-keadaan-spiritual-dan-aktualisasi-diri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keajaiban Hati</title>
		<link>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/keajaiban-hati.html</link>
		<comments>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/keajaiban-hati.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 23:27:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Motivation Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rukunrencang.com/?p=6126</guid>
		<description><![CDATA[Kita biasa mengucapkan dan mendengar kata “kalbu.” Kata itu sebenarnya berasal dari bahasa Arab “al-qalb.” Sementara itu, kata “al-qalb”sering diterjemahkan dengan kata “hati.” Di sini kita tidak perlu debat semantis tentang ketiga kata itu. Cukuplah kita pahami bahwa ketiga kata itu menunjuk pada satu obyek yang sama. Kita bisa mengetahui obyek itu dari ungkapan, misal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita biasa mengucapkan dan mendengar kata “kalbu.” Kata itu sebenarnya berasal dari bahasa Arab “<em>al-qalb</em>.” Sementara itu, kata “<em>al-qalb</em>”sering diterjemahkan dengan kata “hati.” Di sini kita tidak perlu debat semantis tentang ketiga kata itu. Cukuplah kita pahami bahwa ketiga kata itu menunjuk pada satu obyek yang sama. Kita bisa mengetahui obyek itu dari ungkapan, misal,  “Hatiku sakit mendengar ucapannya.” Kata “hati” dalam ungkapan itu bukanlah menunjukkan salah satu organ tubuhnya melainkan dirinya. Demikian halnya ungkapan, misal, cinta ini selalu ada di dalam kalbu. Kata “kalbu”dalam ungkapan itu juga menunjukkan diri manusia. Jelasnya, baik kata “hati” dan “kalbu”sama-sama menunjukkan diri manusia. Tentunya diri manusia bukanlah tubuh manusia melainkan hakikat manusia. Hal ini sudah dijelaskan oleh sufi ternama, Al-Ghazali bahwa hati adalah hakikat manusia. Dalam tulisan ini, kita akan memahami lebih dekat hati sebagai hakikat manusia.</p>
<p>Dalam kitab Ihya`, Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati memiliki dua wajah. Wajah pertama menghadap Alam Ghaib, sebagai jalan masuk ilham dan wahyu. Sedangkan wajah hati kedua menghadap Alam Nyata (dunia). Lihat foto (1)</p>
<div id="attachment_6127" class="wp-caption aligncenter" style="width: 669px"><a href="http://rukunrencang.com/new/wp-content/uploads/206457_204367332920068_203132063043595_635061_1343366_n.jpg"><img class="size-full wp-image-6127" title="hati-1" src="http://rukunrencang.com/new/wp-content/uploads/206457_204367332920068_203132063043595_635061_1343366_n.jpg" alt="" width="659" height="575" /></a><p class="wp-caption-text">Hati (foto 1)</p></div>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p>Lingkaran hitam yang berada di paling tengah menjelaskan Dunia (Alam Nyata). Inilah tempat tinggal kita sekarang ini. Di tempat ini pula, kita berupaya mewujudkan harapan dengan berbagai tindakan terencana. Dunia adalah tempat semua tindakan manusia baik tindakan buruk maupun tindakan baik. Kita harus memahami bahwa keberadaan dunia itu adalah lading bagi kita semua. Di dunia inilah kita menanam kebaikan atau keburukan. Jelasnya, kehidupan kita sekarang ini masih berada di dunia ini.</p>
<p>Lingkaran warna merah di tengah menjelaskan wajah hati yang menghadap dunia. Karena fungsinya menghadap dunia dan memahami segala hal di dalamnya, kita menamakan wajah itu dengan kata “pikiran.” Pikiran merupakan sebuah kemampuan dalam diri manusia untuk memahami segala hal dunia. Kita juga tahu bahwa pikiran itu tidak bisa memahami fenomena dunia kecuali ia berada dalam keadaan sadar. Misalnya, pada saat tidur kita sama sekali tidak mengetahui apapun di dunia. Bahkan bisa dikatakan saat tidur, kita terputus dengan dunia ini. Sebaliknya pada saat sadar, kita bisa mengetahui semua hal di dunia. Bahkan lebih dari itu, kita bisa mengetahui diri kita masing-masing. Dengan kata lain, pikiran adalah kemampuan di dalam hati untuk memahami segala hal di dunia.</p>
<p>Lingkatan kuning yang berada paling luar adalah wajah hati yang menghadap Alam Ghaib. Pikiran sebagai wajah hati yang menghadap dunia memiliki kemampuan memahami segala hal di dunia, maka wajah hati yang menghadap Alam Ghaib memiliki kemampuan untuk menerima segala hal yang dating dari sisi Allah, seperti ilham dan wahyu. Selain itu, wajah hati itu memiliki kemampuan merasakan hasil pikiran. Misalnya saja, pada saat pikiran itu mengatakan,”Saya adalah miskin dan sial,” maka wajah hati itu bisa merasakan kesedihan, kegelisahan dan kegundahan. Sebaliknya, pada saat pikiran mengatakan,”Saya adalah sebaik-baik ciptaan Allah,”maka ia akan merasakan kebahagian, ketenangan dan ketentraman. Di sinilah maksud perkataan Al-Ghazali bahwa hati merupakan sumber dan pembuka semua kebaikan. Agar lebih mudah kita menamakan wajah hati yang menghadap Alam Ghaib ini dengan istilah “hati.” Jadi, setiap hati memiliki kemampuan memahami segala hal di dunia dengan pikiran. Bahkan hati bisa merasakan hakikat dirinya, seperti kesedihan dan kebahagian. Persoalan kesedihan manusia hidup di dunia lihat foto (2)</p>
<div id="attachment_6128" class="wp-caption aligncenter" style="width: 601px"><a href="http://rukunrencang.com/new/wp-content/uploads/hati-2.jpg"><img class="size-full wp-image-6128" title="hati-2" src="http://rukunrencang.com/new/wp-content/uploads/hati-2.jpg" alt="" width="591" height="720" /></a><p class="wp-caption-text">Hati (foto 2)</p></div>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p>Jika seorang mukmin mengikuti petunjuk Nabi Muhammad saw maka pastilah ia merasakan kebahagian meskipun pada saat itu ia tidak memiliki harta benda, pendidikan tinggi dan relasi social. Kebahagian itu tercipta sebab ia terbebas dari belenggu dunia. Kebahagian ini dapat dilihat gambar foto (3):</p>
<div id="attachment_6129" class="wp-caption aligncenter" style="width: 654px"><a href="http://rukunrencang.com/new/wp-content/uploads/hati-3.jpg"><img class="size-full wp-image-6129" title="hati-3" src="http://rukunrencang.com/new/wp-content/uploads/hati-3.jpg" alt="" width="644" height="447" /></a><p class="wp-caption-text">Hati (foto 3)</p></div>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p>Oleh : Habaib Zainal Abidin Aydeed</p>
<p>http://www.facebook.com/pages/Islamic-Motivation-Development/203132063043595</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/keajaiban-hati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keterlibatan ALLAH dalam Kesuksesan Manusia</title>
		<link>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/keterlibatan-allah-dalam-kesuksesan-manusia.html</link>
		<comments>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/keterlibatan-allah-dalam-kesuksesan-manusia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 23:17:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Motivation Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rukunrencang.com/?p=6125</guid>
		<description><![CDATA[Kemudian Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (Q:S;9:26). Jika Allah menolong kamu maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemudian Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (Q:S;9:26).</p>
<p>Jika Allah menolong kamu maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (Q:S;3:160). </p>
<p>Betapa malang manusia jika ia tidak mendapatkan pertolongan Allah dalam hidupnya. Kekalahan tidak saja terasa dalam hatinya saja melainkan juga disaksikan dalam kenyataan. Di dalam hatinya, bumi olehnya terasa sempit. Di dalam kenyataan, segala hal seperti banyaknya kekayaan, relasi sosial dan sebagainya sama sekali tidak memberikan manfaat baginya. Dalam keadaan ini, semua tindakannya bercerai-berai sehingga hidupnya penuh dengan keluh kesah. Hidupnya dipenuhi dengan berbagai masalah baik masalah yang kecil maupun masalah besar. Semuanya tidak bisa dipecahkan dengan kemampuan pikiran dan pengetahuannya.   </p>
<p>Betapa bahagia manusia, jika ia mendapatkan pertolongan Allah dalam hidupnya. Kemenangan (kesuksesan) datang dalam hidupnya dengan mudah. Kita bisa mengetahui pertolongan Allah dengan dua indikator : (1) ketenangan dalam hati dan (2) kemudahan dalam kenyataan. Ketenangan dalam hati itu diisyaratkan oleh firman-Nya, “Kemudian Allah menurunkan ketenangan-Nya.” Sedangkan kemudahan itu diisyaratkan oleh firman-Nya, “Dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya.” Setiap kemenangan (kesuksesan) tidak akan lepas dari pertolongan Allah. Kita tahu peperangan Badar, secara logika matematis, pasukan mukim harus mengalami kekalahan. Tapi sebab pertolongan Allah, mereka memperoleh kemenangan. Begitu pula dalam kehidupan sekarang ini, kita melihat seseorang memperoleh kesuksesan dalam bisnis. Bahkan ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa bisnis itu bisa menjadi luar biasa. Semua itu terjadi sebab ia mendapatkan pertolongan Allah.</p>
<p>Benarlah! Jika Allah memberikan pertolongan­-Nya maka tidak ada seorang pun bisa menghalanginya mendapatkan kesuksesan. Meskipun ia hanya memiliki sedikit modal dalam bisnis. Sebaliknya, jika Dia memberikan pertolongan-Nya maka berapapun banyak modal tetap saja bisnis yang dibangun justru membawanya dalam problem hidup. Pada suatu saat saya bertemu seorang pengusaha muda. Saya bertanya kepadanya, Berapakah modal anda saat memulai bisnis? Jawabnya, Saya mulai bisnis ini boleh dikatakan tanpa modal besar kira-kira Rp. 100.000 rupiah. Luar biasa, modal 100.000 rupiah itu bisa berkembang menjadikan anda seorang pengusaha muda. Saya bertanya kembali kepadanya, Pernahkah anda mengira bisa menjadi pengusaha muda seperti saat ini? Saya sama sekali tidak pernah menduganya, jawabnya. Bahkan ia menjelaskan bahwa selama menjalankan usahanya itu ia hanya merasakan ketenangan dalam hati dan berbagai hal di hadapannya memberikan manfat kepadanya.</p>
<p>Banyak pengusaha mulai bisnisnya dengan modal relatif kecil. Kemudian ia mengalami kondisi buruk dalam bisnisnya sehingga bisnisnya bangkrut. Bahkan ia tidak bisa membangun bisnisnya seperti masa sebelumnya. Mengapa ia harus mengalami keadaan seperti itu? Kasus ini bisa dikatakan sama dengan apa yang dialami pasukan mukmin pada masa Nabi Muhammad saw. Kita ingat bahwa pada peperangan Badar, mereka memperoleh kemenangan meski jumlah mereka sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah pasukan musuh. Sementara itu, mereka mengalami kekalahan dalam peperangan Hunain meski jumlah mereka banyak dari pada pasukan musuh. Kita tahu dari kisah peperangan Hunain bahwa kekalahan pasukan mukmin itu bermula dari kecongkakan mereka karena merasa besar dan menang dengan banyaknya jumlah pasukan.</p>
<p>Dengan begitu, kita bisa mengatakan bahwa seseorang bisa menjadi pengusaha dengan modal relatif sedikit dengan perolongan Allah. Ketika menjadi pengusaha, ia sama sekali tidak menyadari keterlibatan Allah dengan memberikan pertolongan kepadanya. Bahkan ia beranggapan bisnis itu bisa tumbuh sebab kerja kerasnya. Inilah letak kecongkakannya dalam bisnis. Pada akhirnya, Allah pun menarik kembali pertolongan-Nya dengan menjadikan segala di hadapannya, seperti banyaknya uang, anak-istri dan relasi sosial, tidak memberikan manfaat sedikitpun kepadanya. Tidak hanya itu, hamparan luas bumi terasa sempit dalam kesadarannya sehingga ia tidak lagi kreatif lagi. Jika ia tetap tidak menyadari kesalahannaya dan lekas bertaubat, maka ia akan semakin jauh dari Allah dengan melakukan hal-hal magis, perdukunan dan sebagainya.</p>
<p>Setelah kita membaca tulisan ini dalam page Islamic Motivation Development, kita bisa mengambil dua poin penting.</p>
<p>1. Kesuksesan dalam hidup manusia itu terjadi sebab pertolongan Allah. Kesuksesan itu dapat ditandai dengan : (1) ketenangan dalam hati dan (2) kemudahan di dunia.</p>
<p>2. Kehancuran dalam hidup manusia terjadi sebab kecongkakan dalam dirinya. Kecongkakan itu akan mendatangkan : (1) hilangnya kecerdasan dalam kesadaran dan (2) kesialan di dunia nyata.</p>
<p>Oleh : Habaib Zainal Abidin Aydeed</p>
<p>http://www.facebook.com/pages/Islamic-Motivation-Development/203132063043595</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/keterlibatan-allah-dalam-kesuksesan-manusia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Manusia Mengalami Kemalangan dalam Kehidupan?</title>
		<link>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/mengapa-manusia-mengalami-kemalangan-dalam-kehidupan.html</link>
		<comments>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/mengapa-manusia-mengalami-kemalangan-dalam-kehidupan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 23:13:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Motivation Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rukunrencang.com/?p=6124</guid>
		<description><![CDATA[Dikisahkan dalam Al-Qur`an : Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukmin) di medang peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberikan manfaat kepadamu sedikitpun dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dikisahkan dalam Al-Qur`an : Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukmin) di medang peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberikan manfaat kepadamu sedikitpun dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (Q:S;9:25-26).</p>
<p>Kita harus menyadari bahwa segala peristiwa dalam hidup tidak berjalan seperti logika matematis. Kisah perang Hunain mengajarkan kepada kita betapa kelirunya manusia jika percaya sepenuhnya dengan logika matematis itu. Logika matematis dapat dirumuskan : “Pasukan dengan jumlah yang banyak pasti menang melawan pasukan dengan jumlah yang sedikit.” Pada kenyataannya, terjadi sebaliknya jumlah yang sedikit justru mengalahkan pasukan yang banyak itu dikalahkan oleh pasukan yang sedikit. Kecongkakan pasukan mukmin yang banyak itu terlihat dari kepercayaan mereka terhadap banyaknya jumlah mereka. Sikap kecongkakan itu ada dalam kesadaran mereka sebab kepercayaan terhadap logika matematis itu. Mereka tidak lagi percaya pada perwujudan pertolongan Allah. Padahal mereka telah membuktikannya berulang kali dalam kehidupan mereka.   </p>
<p>Meski kita saat ini tidak berada dalam medan peperangan. Tapi kita semua butuh pertolongan Allah dalam rangka mewujudkan impian kita. Sebab itu, kita harus percaya kepada Allah dan mengharap pertolongan-Nya. Kita pernah menyaksikan orang kaya berkata,”Saya akan bayar berapapun agar saya bisa muda kembali.” Ungkapan itu menunjukkan fakta eksternal dari orang yang tidak mendapatkan pertolongan-Nya. Fakta ekstenal itu : banyaknya harta tidak memberikan manfaat sedikitpun kepadanya. Fakta eksternal itu memiliki hubungan dengan segala hal di hadapannya. Hal itu disaksikan saat Allah mengambil kembali pertolongan-Nya. Jika banyaknya harta itu tidak memberikan manfaat sedikitpun maka bagaimana dengan sedikitnya? Tentunya harta yang sediikit lebih tidak memberikan manfaat kepadanya karena ia tidak mendapatkan pertolongan-Nya. Betapa sialnya orang, jika banyaknya harta benda tidak memberikan manfaat sedikitpun kepadanya. Pastinya manusia dengan banyaknya harta benda akan mengalami kesulitan luar biasa saat mewujudkan impian. Meskipun impian itu bisa dibilang mudah sekali.    </p>
<p>Tanpa pertolongan Allah, kita pasti mengalami fakta eksternal bahwa banyaknya jumlah yang banyak tidak memberikan manfaat sedikitpun tapi juga merasakan fakta internal : bumi yang luas itu terasa sempit olehnya. Fakta internal ini lebih berhubungan dengan kondisi pikiran. Dalam keadaan seperti ini, orang tidak lagi memiliki kecerdasan dalam memahami dunia luar. Kita tahu bahwa dunia itu terhamparkan luas di hadapannya. Tapi apa yang disaksikan oleh pikirannya hanyalah kesempitan luar biasa. Dengan begitu, berbagai hal di hadapannya tidak lagi memberikan manfaat sedikitpun kepadanya. Jelasnya, kita dapat menarik dua indikator penting saat Allah tidak memberikan pertolongan-Nya kepada manusia. Indikator pertama adalah hilangnya kecerdasan spiritual. Sedangkan indikator kedua adalah kesialan luar biasa dengan berbagai hal di hadapannya.</p>
<p>Oleh : Habaib Zainal Abidin Aydeed</p>
<p>http://www.facebook.com/pages/Islamic-Motivation-Development/203132063043595</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/mengapa-manusia-mengalami-kemalangan-dalam-kehidupan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersyukur: Berdoa Tanpa Kata-Kata</title>
		<link>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/bersyukur-berdoa-tanpa-kata-kata.html</link>
		<comments>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/bersyukur-berdoa-tanpa-kata-kata.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 23:07:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Motivation Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rukunrencang.com/?p=6123</guid>
		<description><![CDATA[Fulan memiliki uang 50 ribu rupiah dari pemberian seorang dermawan. Ia adalah seorang ayah dari anak perempuan bernama Fulanah yang akan dinikahkannya satu bula lagi. Fulan memperkirakan biaya pernikahan itu sekitar 50 juta rupiah. Di setiap malam ia memohon riZki kepada Allah tapi belum ada tanda-tanda bahwa doanya akan terkabul. Hatinya menjadi gelisah karena saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Fulan memiliki uang 50 ribu rupiah dari pemberian seorang dermawan. Ia adalah seorang ayah dari anak perempuan bernama Fulanah yang akan dinikahkannya satu bula lagi. Fulan memperkirakan biaya pernikahan itu sekitar 50 juta rupiah. Di setiap malam ia memohon riZki kepada Allah tapi belum ada tanda-tanda bahwa doanya akan terkabul. Hatinya menjadi gelisah karena saat pernikahan anak perempuannya semakin dekat.</p>
<p>Fulan merasakan kegelisahan dalam hati. Ia selalu bertanya sendiri, &#8220;Mengapa Allah belum juga mengabulkan doaku?&#8221; Padahal Allah berfirman:&#8221;Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya.&#8221; Ia berusaha untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Hal ini mendorong dirinya datang ke rumah seorang Sufi. Ia bertanya,&#8221;Mengapa Allah belum juga mengabulkan doanya?&#8221; Sufi itu berkata, &#8220;Jujurlah! apakah benar-benar kamu tidak punya uang sama sekali?&#8221;</p>
<p>Fulan terdiam dan kemudian menjawab,&#8221;Saya hanya punya uang 50 ribu rupiah saat ini. Itupun pemberian seorang dermawan.&#8221; Setelah mendengar perkataan itu, Sufi itu menegaskan,&#8221; Baguslah! jika begitu.&#8221;Kemudian Sufi itu melanjutkan perkataannya, &#8220;Apakah uang 50 ribu rupiah itu kamu bawa juga saat berdoa?&#8221; Fulan pun menjawab,&#8221;Benar, saya selalu bawa saat berdoa.&#8221; Lalu, berapakah uang yang kamu butuhkan untuk biaya pernikahan putrimu? Tanya sufi kepada Fulan. Kira-kira 50 juta rupiah, jawab Fulan.</p>
<p>Setelah mendengar penjelasan Fulan, Sufi itu berkata,&#8221;Jika begitu saya tahu masalahnya, mengapa Allah tidak mengabulkan doamu? &#8221; Betapa terkejut hati Fulan mendengar perkataan sufi itu. Ia berkata,&#8221;Kok bisa secepat itu kamu tahu penyebabnya doaku tidak dikabulkan oleh Allah.&#8221; Padahal selama beberapa hari Fulan mencari jawabannya dan tidak pernah ketemu. Sufi dermawan menjawab,&#8221;Memahami hal itu mudah sekali !&#8221;</p>
<p>Begini, saat kamu berdoa,&#8221;Ya Allah berikanlah riZki kepadaku,&#8221; apakah kamu merasa punya uang?&#8221; Fulan menjawab,&#8221;Saat itu, saya merasakan tidak punya uang sama sekali.&#8221; Lalu Sufi itu bertanya kembali, &#8220;Benarkah begitu jawabanmu? Ya! Jawab fulan dengan penuh keyakinan.Setelah itu, Sufi mengatakan,&#8221;Bagaimana Allah mau mengabulkan doa dan permohonanmu sementara hatimu kufur terhadap nikmat-Nya.&#8221; Mendengar penjelasan itu, fulan terkejut sekali tanpa tahu di mana letak kekufuran itu. Sufi itu meneruskan penjelasannya, &#8220;Kesalahanmu bermula dari membandingkan 50 ribu rupiah dengan kebutuhanmu 50 juta, maka 50 ribu rupiah itu tampak tidak ada nilainya sama sekali. Padahal 50 ribu itu adalah pemberian Allah dan boleh jadi Dia akan memberikan 50 juta itu sebab 50 ribu itu.Jelas sekali, kamu berdoa dengan hati kufur kepada nikmat-Nya.</p>
<p>Setelah mendengar penjelasan Sufi itu, Fulan menyadari kesalahannya dan bertaubat kepada Allah. Kemudian ia mengikuti nasehat Sufi itu, &#8220;Jika kamu ingin doamu dikabulkan oleh Allah, maka janganlah kamu memanjatkannya kepada-Nya dengan hati penuh kekufuran. Sebaliknya, panjatkanlah doamu kepada-Nya dengan hati penuh rasa syukur.&#8221;</p>
<p>Oleh : Habaib Zainal Abidin Aydeed</p>
<p>http://www.facebook.com/pages/Islamic-Motivation-Development/203132063043595</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/bersyukur-berdoa-tanpa-kata-kata.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Kepastian : Sumber Kegelisahan dalam Kesadaran</title>
		<link>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/mencari-kepastian-sumber-kegelisahan-dalam-kesadaran.html</link>
		<comments>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/mencari-kepastian-sumber-kegelisahan-dalam-kesadaran.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 10:31:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Motivation Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rukunrencang.com/?p=6119</guid>
		<description><![CDATA[Dikisahkan seorang laki-laki dari bani Isra&#8217;il beribadah selama 70 tahun. Lalu Allah berkehendak untuk memperlihatkan laki-laki itu di hadapan para malaikat. Diutuslah seorang Malaikat kepadanya untuk memberikan pesan bahwa dirinya tidak layak masuk surga dengan ibadah selama 70 tahun itu. Malaikat itu menyampaikan pesan itu kepada laki-laki Bani Israil itu. Setelah mendengar pesan itu, hamba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dikisahkan seorang laki-laki dari bani Isra&#8217;il beribadah selama 70 tahun. Lalu Allah berkehendak untuk memperlihatkan laki-laki itu di hadapan para malaikat. Diutuslah seorang Malaikat kepadanya untuk memberikan pesan bahwa dirinya tidak layak masuk surga dengan ibadah selama 70 tahun itu. Malaikat itu menyampaikan pesan itu kepada laki-laki Bani Israil itu. Setelah mendengar pesan itu, hamba itu berkata,&#8221;Kita ini dicipta untuk menyembah-Nya, maka sdh sepantasnya aku menyembah-Nya.&#8221; Menerima jawaban itu, Malaikat itu kembali kepada Allah. Di hadapan-Nya, ia berkata,&#8221;Wahai Tuhanku, Engkau lebih tahu apa yang dikatakan olehnya.&#8221; Kemudian Allah berfirman,&#8221;Jika ia tidak berpaling dari menyembah-Ku, maka Aku dengan kemurahan juga tidak berpaling darinya. Saksikanlah wahai para Malaikat bhw Aku benar-benar telah menghampuninya.&#8221;<br />
Kita tahu bahwa di bagian akhir dari kisah itu terdapat ungkapan Allah,&#8221;Aku benar-benar telah mengampuninya.&#8221; Ungkapan itu menunjukkan bahwa laki-laki Bani Isra`il itu telah melakukan satu kesalahan fatal. Tapi kesalahan tersebut tidak dijelaskan secara eksplisit di dalam kisah itu. Apakah kesalahan laki-laki Bani Isra`il itu setelah beribadah kepada Allah selama 70 tahun?<br />
Di dalam kesadaran laki-laki Bani Isra`il itu terdapat dua macam pengetahuan. Pengetahuan pertama adalah pengetahuan tentang dirinya sendiri (Aku telah beribadah kepada Allah selama 70 tahun). Sedangkan pengetahuan kedua adalah pengetahuan tentang janji Allah(Surga diperuntukkan bagi orang takwa). Kedua pengetahuan itu mendorong pikirannya untuk menemukan sebuah kepastian janji Allah. Di dalam kesadarannya penuh dengan pertanyaan, &#8220;Apakah diriku termasuk salah seorang penghuni surga-Nya setelah beribadah selama 70 tahun?&#8221;<br />
Selama pikiran itu berusaha keras untuk menemukan kepastian tentang janji Allah, maka kesadarannya akan dipenuhi  kegelisahan luar biasa. Padahal kesadaran adalah penopang hati saat menghadap kepada Allah dan Dia pun tidak senang saat memandang hati penuh dengan keraguan. Tentunya surga tidak akan diberikan kepada manusia yang hatinya penuh kegelisahan. Benarlah! jika Allah mengutus seorang Malaikat untuk menyampaikan pesan dari-Nya bahwa laki-laki Bani Isra`il itu tidak layak masuk surga sebab ibadah selama 70 tahun.<br />
Pada saat malaikat menyampaikan pesan Allah, terjadi perubahan luar biasa di dalam diri laki-laki Bani Isra`il itu. Ia menyadari kesalahan dirinya. Karena itu, ia membebaskan kesadarannya dari kegelisahan dengan taubat kepada Allah dan tidak lagi mencari kepastian tentang-Nya. Dengan taubat itu, kesadarannya kembali tenang sehingga ia menjawab Malaikat itu, &#8220;Kita dicipta untuk ibadah dan sudah sepantasnya kita beribadah kepada-Nya.&#8221; Kesadarannya menjadi tenang dan beriman kembali kepada janji Allah. Pada saat itu, hatinya menghadap kepada-Nya dengan penuh keimanan dan ketenangan. Pada saat itu, Allah memberikan ampunan kepadanya dengan mengembalikan semua ibadahnya selama 70 tahun dan memberikan surga kepadanya.</p>
<p>Oleh : Habaib Zainal Abidin Aydeed</p>
<p>http://www.facebook.com/pages/Islamic-Motivation-Development/203132063043595</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rukunrencang.com/islamic-motivation-development/mencari-kepastian-sumber-kegelisahan-dalam-kesadaran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NASAB CALON ISTRI</title>
		<link>http://rukunrencang.com/habaib/nasab-calon-istri.html</link>
		<comments>http://rukunrencang.com/habaib/nasab-calon-istri.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Oct 2010 02:46:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Habaib]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah dan Kekeluargaan]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokhabib.wordpress.com/?p=11560</guid>
		<description><![CDATA[NASAB CALON ISTRI Penulis: Pejuang Islam [ 26/9/2010 ] NASAB CALON ISTRI Luthfi Bashori Seorang pemuda dari suku Quraisy datang kepada Imam Al-ashma`i, dan meminta pendapat tentang kreteria wanita yang patut untuk dinikahinya. Beliau pun menjawab : Ya akhi, kalau meminta pertimbangan tercepat, yaa carilah wanita dengan pertimbangan nasab keturunannya, yang mana jika disebut nama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pondokhabib.wordpress.com&#38;blog=4430338&#38;post=11560&#38;subd=pondokhabib&#38;ref=&#38;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>NASAB CALON ISTRI Penulis: Pejuang Islam [ 26/9/2010 ] NASAB CALON ISTRI Luthfi Bashori Seorang pemuda dari suku Quraisy datang kepada Imam Al-ashma`i, dan meminta pendapat tentang kreteria wanita yang patut untuk dinikahinya. Beliau pun menjawab : Ya akhi, kalau meminta pertimbangan tercepat, yaa carilah wanita dengan pertimbangan nasab keturunannya, yang mana jika disebut nama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pondokhabib.wordpress.com&amp;blog=4430338&amp;post=11560&amp;subd=pondokhabib&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rukunrencang.com/habaib/nasab-calon-istri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

